Baca blog gw sama aja kayak baca tulisan cacat dan gak berbobot. Gak akan ada kata-kata ato cerita yang bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa. Paling cuma bisa buat obat susah eek aja. Karena cerita disini berpotensi membuat anda mual-mual dan mules-mules.. hehe
Posted on Sabtu, Maret 05, 2016

Kisah Ibuku (bagian 2)

By Afaa Alghifaary di Sabtu, Maret 05, 2016

Gue kaget begitu tadi siang tante gue telpon kalau hari ini nyokap harus segera dibawa ke RS Kanker Dharmais. Sebelumnya selama 1 minggu, nyokap dirawat di RS Siloam Kebon Jeruk, dan seminggu lalunya di RS Pelni Petamburan.

"Lho kok harus hari ini Tante? Bukannya tadi kata dokter Chandra bisa besok ya?" kata gue merujuk kata-kata dari dokter yang menangani nyokap di Siloam.

"Iya Fary, soalnya kankernya udah menyebar, jadi harus segera dirujuk ke Dharmais."

Kanker?? Gue inget betul sebelum berangkat kerja, dokter Chandra bilang menurut hasil PET Scan, nyokap terkena tumor. Setelan sebelumnya hasil diagnosa Pelni menyatakan nyokap "hanya" terkena tbc tulang.

Gue menelepon tante gue lagi buat memastikan apakah tumor atau kanker.

"Iya, jadi tadi dokter Chandra agak sedikit berbohong sama Fary. Karena dia tau Fary mau kerja, mungkin biar gak kepikiran. Dan dia blg Fary jg masih muda, takut nanti gak bisa menjelaskan ke mama. Jadi sebenernya dari hasil PET Scan, mama itu kena kanker, diperkirakan sudah stadium 4. Kankernya udah menyebar ke liver, dan mulai menyebar ke tulang belakang serta otak....... ..... ..... ....."

Mendengar kata kanker, stadium 4, nyebar ke liver, otak dll pikiran gue mulai kalut. Gue masih gak percaya.  Bener-bener gak percaya.

Seketika pikiran gue entah melayang kemana dan gue gak denger lagi omongan tante gue.

"Fary yang sabar ya. Yang tenang. Jangan mikir macam-macam. Ini ujian dari Allah", kata Tante gue sebelum menutup omongan lewat telepon.

Yang tenang? Oooh bohong banget kalau gue bilang, 'Iya Tante. Fary tenang kok. Penyakit mama kan cuma kanker doang. Hehe. Cuma kanker stadium 4. Hehehee. Cuma kanker ganas yg udah nyebar kemana-mana. Gak apa-apa kok'.

Ya gak mungkin lah. Pasti pikiran gue kemana-mana. Dari soal penyakit, biaya, pengobatan, dll.

Gak lama Tante gue nelepon lagi, dia bilang mau ke Dharmais buat cek apakah ada kamar kosong atau gak.

Jam setengah 4 gue izin pulang cepat, buat nyusul keluarga gue yang lebih dulu ada di Dharmais. Sementata nyokap masih di Siloam.

***

Mengurus kamar di Dharmais ternyata gak segampang bawa rujukan dari RS lain, ke igd, lalu dirawat. Nope. Gue gak akan cerita sekarang gimana ribetnya. Tapi yang pasti sampai hari ini, jam 00.45 gue masih disini menunggu nyokap dari Siloam dan menunggu kepastian apakah nyokap bisa dirawar di Dharmais atau tidak.

***

Untungnya gue ditemenin sama temen kerja nyokap gue waktu dia masih kerja di salah satu SMP negeri di daerah Kebon Jeruk. Istri Om Sam, begitu gue biasa panggil, pernah sakit kanker dan dirawat si Dharmais selama 6 bulan. Sampai 5 kali kemo, 25 kali di sinar, dan entah berapa kali di terapi. Memang repot administrasinya.

Gue gak peduli seberapa repot atau ribetnya ngurus admin disini. Gud gak peduli seberapa banyak waktu gue untuk jaga beliau. Gue cuma mau nyokap gw sembuh. That's all.

3,5 tahun lalu gue harus kehilangan  bokap karena sakit jantung. Sekuat tenaga sekarang gue harus jaga nyokap gue. Gimanapun caranya.

Even gue gak tau kelanjutannya gimana, yang penting gue udah berusaha mati-matian buat sembuhin nyokap. Apapun caranya.

Gue kutip salah satu lirik lagu dari rapper Kanada, Deen Squad yang berjudul Insha Allah : 'But it's all good Allah's testing us. At the same time He keeps blessing us. And they see us all progressing what?'

Ujian dari Allah tujuanya untuk kebaikan. Padahal sebenernya dia lagi memberikan kita rahmat-Nya.

Semoga nyokap bisa lewatin ujian ini dengan sebaik-baiknya.

Thank God for testing us

*04 Maret 2016. Ditulis di pelataran RS Dharmais pukul 00.45

2 komentar

Anonim on 28 April 2016 17.33  

semoga ibunya lekas sembuh.
amieen..


Distributor Buku Paket TK on 28 Desember 2016 08.58  

Ibu segalanya untuk anak